Monday, 31 July 2017

Refleksi 50 Tahun ASEAN



         
      ASEAN adalah singkatan dari Association of Souteast Asian Nations yakni Perhimpunan Negara-negara yang Berada dikawasan Asia Tenggara, didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 di Kota Bangkok, Thailand yang dikenal dengan Deklarasi Bangkok. Deklarasi tersebut dihadiri oleh lima negara yang disebut juga dengan negara pendiri ASEAN, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thalaind dan juga Filipina. Wakil-wakil dari ke-5 negara tersebut antara lain Adam Malik (indonesia), Tun Abdul Razak (Malaysia), S. Rajaratnam (Singapura), Thanat Khoman (Thaialand), dan Narciso Ramos (Filipina).

Adapun tujuan ASEAN yang tercantum didalam Deklarasi Bangkok tersebut ialah :
  • Untuk mempercepat pertumbuhan ekonimi, kemajuan sosial dan pengembangan budaya dalam kawasan (ASEAN) melalui usaha-usaha bersama didalam semangat kesetaraan dan kebersamaan didalam memperkuat pondasi untuk kesejahteraan dan perdamaian negara-negara dikawasan Asia Tenggara.
  • Untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas dalam kawasan dengan menghormati keadilan dan supremasi hukum didalam hubungan diantara negara-negara dalam satu kawasan dan kepatuhan terhadap piagam PBB.
  • Untuk memberikan bantuan satu sama lain dalam hal fasilitas-fasilitas pelatihan dan penelitian dalam bidang pendidikan, pekerjaan/profesi, teknik dan administrasi.
  • Untuk mempromosikan kolaborasi secara aktif dan saling membantu dalam hal-hal yang menjadi kepentingan bersama seperti ekonomi, sosial, budaya, teknik, ilmu pengetahuan dan juga dalam bidang-bidang administrasi.
  • Untuk berkolaborasi lebih efektif dalam pemanfaatan dengan lebih baik dalam bidang pertanian dan industri, memperluas perdagangan, termasuk mempelajari masalah-masalah dalam perdagangan komositas internasional, pengembangan sistem transportasi dan fasilitas-fasilitas komunikasi dan meningkatkan standar hidup untuk orang-orang atau masyarakat yang berada didalam kawasan ASEAN.
  • Untuk mempromosikan sistem pendidikan di Asia Tenggara.
  • Untuk menjaga kerjasama yang erat dan saling menguntungkan dengan organisasi-organisasi internasional dan regional yang sudah ada sebelumnya yang memiliki kesamaan visi dan tujuan, dan mengeksplor semua jalan untuk kerjasama yang lebih erat diantara mereka (organisasi-organisasi tersebut).
    Organisasi ASEAN yang pada awalnya hanya berjumlah lima negara tersebut, sekarang sudah tumbuh berkembang menjadi 10 negara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Myanmar, Laos dan Kamboja.

     Saat ini, ASEAN kini telah genap berusia 50 tahun, tepatnya pada 8 Agustus 2017. Sedikit banyaknya perjalanan ASEAN telah memberi kontribusi positif terhadap kemajuan Asia Tenggara selama ini.

    Selamat Hari ASEAN yang ke-50 Tahun, Semoga selalu eksis di tengah-tengah perkecamukan Dunia Internasional Saat ini.

Monday, 17 July 2017

M. Qobullah Siregar : Refleksi 9 Tahun Labura




      Kabupaten Labuhanbatu Utara merupakan kabupaten yang dimekarkan dari Kabupaten Labuhanbatu sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2008 pada 24 Juni 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Labuhanbatu Utara, semasa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
           Ibu kota kabupaten ini terletak di Aek Kanopan. Pada tanggal 21 Juli 2008 silam, kabupaten ini resmi didirikan. Terdiri dari 8 kecamatan 8 kelurahan dan 82 Desa, dengan jumlah penduduk +351.097 jiwa
      Dalam perjalanan Perkembangan-nya, Berbagai usaha perbaikan sedikit banyaknya telah dilakukan oleh pihak Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Utara untuk kemajuan kabupaten ini, meskipun terkadang memberikan rasa ketidak puasan pada masyarakat.

         Saat ini, Kabupaten Labuhanbatu Utara sudah memasuki usia yang ke-9 tahun, tepat-nya pada tanggal 21 Juli 2017. Sebagai kabupaten yan berkembang, perbaikan demi perbaikan tentunya masih sangat dibutuhkan di kabupaten ini, terlebih itu masalah infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.
            Semoga saja di usia-nya yang ke-9 tahun, daerah yang memiliki moto basimpul kuat babontuk elok ini dapat lebih baik lagi.

Friday, 14 July 2017

Negara yang Krisis Akan Keadilan




      NKRI sudah merdeka lebih dari 71 tahun sejak di deklerasikan-nya Kemerdekaan Republik Indonesia pada 1945 silam. Berbagai bentuk penegakan hukum di negri pertiwi ini sering kali pasang surut berubah-ubah, terkadang adil namun tidak jarang terkesan memihak untuk kepentingan penguasa. Saat rakyat kecil yang meminta keadilan tersebut, kerab kali tidak didengar dengan berbagai alasan diplomatik, namun saat rakyat kecil yang akan di adili, secepat kilat mereka menindak hal tersebut.
       Beberapa kejadian permasalahan Negri belakangan ini telah membuka mata masyarakat, hingga menyebabkan krisis kepercayaan masyarakat teradap penegakan hukum di Negri ini semakin besar dan menjamur kepelosok negri karna lelah melihat tindakan penegak hukum yang hanya mementingkan  kepentingan penguasa.
      Hal ini tentunya menjadi semakin terlihat miris saat Kesejahteraan masyarakat tidak kunjung di dapat. Janji manis yang dilontarkan para politikus saat berkampanye seringkali hanya sebagai angin sorga semata. Kerinduan masyarakat terhadap Negri yang berkeadilan semakin besar melihat tindakan para pemangku jabatan negri ini hanya mementingkan diri sendiri.
      Kiranya ini bisa menjadi PR besar bagi para penegak hukum untuk menjadikan negri ini menjadi negri yang berkeadilan kedepan-nya.

Selamat Hari Keadilan Internasional (17 Juli 2017), Semoga Keadilan di Negri ini dapat di tegak-kan sesuai dengan aturan yang ada tanpa harus pandang bulu. 

Wednesday, 21 June 2017

MAHASISWA YANG DI DZOLIMI



       Rantauprapat, Rabu 21 Juni 2017. Puluhan Mahasiswa/i Universitas Al Washliyah Labuhanbatu Lakukan Aksi Damai di Kampus UNIVA, Bank Syari’ah Mandiri, dan Bank Muamalat.
      Aksi Damai tersebut ialah untuk meminta kejelasan dari Dr. H. Irwansyah Ritonga, M.Hum, yang selama ini mengaku sebagai Rektor namun kenyataan yang terjadi di lapangan tidak di akui di oleh Kopertis Wilayah I Sumatera Utara. Pasalnya, Nilai dari pada Mahasiswa/i tersebut yang sebelumnya telah Membayar ke Bank Syariah Mandiri atas perintah Dr. H. Irwansyah Ritonga, M.Hum sampai saat ini tidak kunjung terdaftar di Forlap Dikti. “Kami Sangat merasa dirugikan padahal kami sudah bayar mahal ke BSM tapi nilai kami malah nggak terdaftar”, ujar salah seorang peserta aksi.
     Saat berlangsungnya Aksi di Kampus UNIVA, Dr. H. Irwansyah Ritonga, M.Hum sedang tidak berada ditempat, menurut informasi yang di dapat bahwa beliau sedang berada di luar kota, Aksi pun dilanjutkan ke Bank Syariah Mandiri.



        Saat Berada di Bank Syariah Mandiri, kondisi yang  sama seperti dikampus juga terjadi, tidak ada satu pun dari pihak Bank yang ingin menjumpai masa aksi, begitu juga halnya saat masa aksi berorasi di Bank Muamalat.
      Akhirnya masa aksipun pelan-pelan membubarkan diri dengan tertib, namun massa aksi sempat mengingatkan, apabila tuntutan mereka tetap didiamkan seperti ini, seolah-olah tidak ada orang yang ingin bertanggung jawab terhadap kerugian mereka, maka mereka akan menurunkan massa yang lebih besar lagi, dan puncaknya akan melaporkan hal tersebut kepada penegak hukum.

Tuesday, 6 June 2017

PRESMA UNIVA LB TANTANG REKTOR UNIVA IL*G*L BEDAH SPA DAN STATUTA



  Rantauprapat 6/6/2017, Lagi-lagi Kampus Universitas Al Washliyah Labuhanbatu kembali bergejolak. Ujian lanjutan hari senin kemarin, yang digelar oleh Rektor Universitas Al Washliyah Labuhanbatu ( Dr. Hj. Meyniar Albina, MA ) kembali harus dilaksanakan di depan gerbang kampus, pasal-nya gerbang tesebut di tutup rapat oleh oknum yang mengaku sebagai Rektor Univa Lb ( Irwansyah Ritonga ) yang seogianya Kopertis Wilayah I Sumut tidak mengakui hal tersebut. Namun meskipun demikian, para mahasiswa/i tetap antusias mengikuti ujian yang penuh dengan sejuta cerita tersebut.
    Setelah selasai melaksanakan ujian dengan dipayungi teriknya panas matahari, membuat mahasiswa geram terhadap perlakuan Rektor Il*g*l tersebut, yang tidak menceminkan layaknya seseorang yang patut untuk diteladani, karena kejadian itu merupakan yang kedua kalinya. Hingga pada akhirnya lima ratusan mahasiswa/i tersebut memutuskan untuk melakukan orasi didepan gerbang. Di komandoi oleh Presiden Mahasiswa ( Arifin Siregar ) dengan semangat membara menuntut keadilan, membuat kondisi demikan menjadi lautan sorak-sorakan terhadap Irwansyah Ritonga.
  Kami ingin masuk.. ini juga kampus kami.. kami juga bayar disini.. teriak mahasiswa sembari menarik gerbang, tapi tak kunjung jua dibuka,  hingga di saat bersamaan dalam orasinya Arifin Siregar selaku Presiden Mahasiswa menantang Irwansyah Ritonga untuk laga argumen terkait tidak bolehnya mahasiswa memasuki kampus baik itu berdasarkan SPA maupun STATUTA Kampus UNIVA LB, namun tantangan tersebut tidak di amini oleh Irwansyah Ritonga.
   Setengah jam beralalu setelah tantangan tersebut di lontarkan oleh Presiden Mahasiswa bertubuh jangkung itu, tiba-tiba Irwansyah Ritonga dengan didampingi oleh kausa hukumnya mendatangi para mahasiswa/i tersebut, tak menunggu waktu lama Arifin Siregar mempersilahkan beliau untuk memaparkan perihal kejadian penutupan gerbang tersebut. Alih-alih menenangkan suasana, ketika Irwansyah Ritonga ingin menyampaikan pendapatnya, entah dikarenakan angin apa, tiba-tiba beliau justru tidak jadi berbicara dan langsung meninggalkan ratusan mahasiswa/i tersebut. Kejadian ini pun membuat mahasiswa/i menyoraki beliau wooooooiiiiii,,,,,,teriak mahasiswa lantang.

  Kondisi mencekam tersebut pun akhirnya berlangsung dengan damai, namun Arifin Siregar selaku Presiden Mahasiswa menegaskan dan mengajak kepada seluruh mahasiswa, apabila perampasan hak-hak mahasiswa seperti ini tetap terjadi, mari kita langkahkan kaki kita kembali ke tempat ini dan mengajak orang tua kita untuk duduki kampus Universitas Al Washliyah Labuhanbatu.


( M. Q. S )

Monday, 5 June 2017

PRESMA UNIVA LB : IDEOLOGI MAHASISWA HAMPIR SETARA DENGAN IDEOLOGI TUHAN



                Ratusan Mahasiswa/i Universitas Al Washliyah Labuhanbatu mengkuti ujian di depan gerbang Kampus pada hari Senin 5 Juni 2017. Kesemua peserta ujian tersebut terdiri 4 Fakultas dari 8 Prodi yang ada di Universitas Al Washliyah Labuhanbatu. Fak. Teknik dengan Prodi.Teknik Informatika, Fak. Agama Islam dengan Prodi. PAI dan KPI, Fak. Ekonomi dengan Prodi. Manajemen serta Fak. Keguruan dan Ilmu Pendidikan dengan Prodi. Biologi, Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Pelaksanaan ujian tersebut di dampingi langsung oleh Rektor Universitas Al Washliyah Labuhanbatu ( Dr. Hj. Meyniar Albina, MA ) dan Puluhan Dosen Tetap.
                Tidak seperti ujian pada lazimnya, biasanya pelaksanaan ujian di adakan dalam ruangan, namun kali ini terpaksa diadakan di depan gerbang, karena gerbang kampus yang seharusnya terbuka lebar untuk seluruh Mahasiswa/i justru ditutup rapat oleh pihak yang mengaku-ngaku sebagai Rektor. Meski di hadapkan dengan panasnya terik matahari, namun tak menyurutkan semangat para Mahasiswa/i untuk mengikuti pelaksanaan ujian tersebut.
                Seperti yang dikatakan oleh Arifin Siregar, selaku Presiden Mahasiswa Universitas Al Washliyah Labuhanbatu, saat dikonfirmasi mengenai kejadian miris tersebut “Ini adalah Kampus Umat bukan kampus perseorangan, tapi kenapa saat mahasiswa ingin masuk ke kampus malah tidak diperbolehkan, toh selama ini mereka juga ikut bayar, Statuta UNIVA LB mana yang menjelaskan bahwa mahasiswa boleh menginjakkan kaki di UNIVA LB harus menunjukkan kartu ujian yang di tanda tangani oleh saudara Irwansyah Ritonga, bukankah ini dinamakan berfikir terbalik dan pembodohan di lingkungan akademisi" tegas Presma tersebut.  Jangan karena perbedaan sudut pandang politik para pemangku jabatan, Mahasiswa menjadi korban keganasan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Selain itu, mahasiswa juga harus memiliki pandangan yang luas, berfikir cerdas serta bersifat arif dalam mengambil sebuah keputusan dalam menetukan sikap. Ingat !!! Mahasiswa memiliki Ideologi hampir setara dengan Tuhan. 
              Sebelum menutup pembicaraan, Arifin Siregar selaku Presiden Mahasiswa Universitas Al Washliyah Labuhanbatujuga juga menambahkan, apabila kondisi ini terus berlanjut, maka pihak BEM dan Mahasiswa akan mengambil tindakan tegas.




                                                                                                                  M. Qobullah Siregar 
                                                                                                             Mahasiswa KPI Sem. VIII

                

Sunday, 21 May 2017

SELAMAT HARI REFORMASI ( 21 Mei 1998 )







Setelah pelantikan Kabinet Pembangunan VII pada awal bulan Maret 1998 ternyata kondisi bangsa dan negara semakin tidak membaik. Perekonomian juga tidak kunjung mengalami pertumbuhan, akibatnya muncul masalah-masalah sosial. Dengan kondisi seperti itu mengundang keprihatinan rakyat, yang akhirnya memasuki bulan Mei 1998 mahasiswa di berbagai daerah mulai mengadakan demonstrasi. Mahasiswa kemudian menyusun agenda reformasi yang isinya ialah : Adili Soeharto dan kroni-kroninya, Amandemen UUD 1945, Penghapusan dwifungsi ABRI, Otonomi daerah yang se,uas-luasnya, Supremasi hukum dan Pemerintahan yang bersih dari KKN.

Dengan banyaknya  aksi demonstrasi, membuat aparat keamanan kewalahan dan bertindak keras terhadap aksi tersebut. Akibatnya bentrokan antara mahasiswa dan aparat keamanan tidak dapat dicegah. Pada tanggal 12 Mei 1996 mahasiswa berdemonstrasi di Universitas Trisakti. Aksi damai tersebut berubah menjadi insiden bentrokan dengan aparat ketika mahasiswa ingin melakukan long march menuju gedung DPR/MPR. Dalam insiden tersebut beberapa mahasiswa tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Kejadian Tri Sakti tersebut memicu terjadinya kerusuhan massa pada tanggal 13 dan 14 Mei di Jakarta dan sekitarnya. Tragedi kerusuhan 13 dan 14 Mei 1998 ini merupakan titik kulminasi depresi masyarakat akibat krisis ekonomi Indonesia. Pasca tragedi ini suasana Jakarta sangat tegang, hingga digelarnya aksi demonstrasi besar-besaran pada tanggal 19 Mei 1998 oleh para mahasiswa. Mereka melakukan Long March menuju gedung DPR/MPR dengan tujuan menuntut turunnya Presiden Soeharto, menggelar Sidang istimewa MPR, dan pelaksanaan reformasi total dalam tubuh pemerintahan negara.

Pada tanggal 20 Mei 1998 Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Madeleine Albright memberikan pernyataan yang meminta Presiden Soeharto untuk segera mundur. Madeleine menyatakan bahwa pengunduran diri Soeharto sudah semestinya dilakukan untuk memberikan jalan bagi transisi demokrasi di Indonesia dan kesempatan ini merupakan momentum bagi Presiden Soeharto untuk menorehkan langkah historisnya sebagai negarawan.
Pada pukul 14.30 tanggal 20 Mei 1998 sejumlah 14 menteri yang berada di bawah koordinasi Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita, menyatakan penolakannya untuk dicalonkan kembali dalam Kabinet Reformasi.

Pada pukul 16.45, perwakilan mahasiswa dan pimpinan DPR/MPR mengadakan pertemuan di lantai 3 gedung lama MPR/DPR. Dalam pertemuan tersebut mahasiswa memberikan batas waktu pengunduran diri Soeharto hingga hari Jumat, tanggal 22 Mei 1998. Jika tidak ada kepastian, maka pada hari Senin tanggal 25 Mei 1998 pimpinan DPR akan mempersiapkan Sidang Istimewa MPR. Akibat adanya desakan dari para mahasiswa dan masyarakat, serta mempertimbangkan kepentingan bangsa dan negara, pada tanggal 21 Mei 1998 pukul 19.06 WIB Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya dari posisi presiden Republik Indonesia. Bertempat di Credential Room, Istana Negara Jakarta dengan disaksikan oleh Mahkamah Agung.

Momentum turunnya Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 ini mengakhiri pemerintahan Orde Baru yang telah berlangsung selama 32 tahun di Republik Indonesia.